Categories
Berita

Kolaborasi Meretas Batas

Fotografi oleh Ebol.

Malang – Organisasi Lintas Batas menggelar acara Retas Batas pada 14 Agustus 2020 di Gedung KNPI, Malang. 

“Kami berkolaborasi dengan seniman dan komunitas kreatif  menyuguhkan kegiatan lokakarya, diskusi, pertunjukan seni sebagai perkenalan visi misi Yayasan Lintas Batas kepada publik di Kota Malang,” kata Direktur Lintas Batas, Wina Yohergaindie. 

Penggerak seni dan budaya dari latar belakang yang beragam, menampilkan proyek-proyek seni dan budaya seperti, Gamelan Kasanja Reborn, Topeng Jabung, lokakarya pewarnaan tekstil dengan bahan alami oleh Studio Tumbuh, talkshow kolaborasi RadjoetAsa, pertunjukan musik dari Kaki Meja dan Nova Ruth.

Pertunjukan musik Kaki Meja. Fotografi oleh Alvinanda Kurniawan.

Acara yang dipandu oleh MC dari Sanggar Celoteh ini berjalan lancar dengan menerapkan protokol kesehatan anti COVID-19, 102 orang penonton dan penyaji, menikmati kolaborasi seniman meretas batas. Konsep acara Retas Batas berdasar pada kreativitas yang berhubungan dengan homo ludens, dimana pada dasarnya manusia adalah makhluk hidup yang senang bermain, bahwa akhirnya manusia menginginkan hal-hal kreatif untuk menjadi solusi dalam permasalahan kehidupan kita sehari-hari.

Pertunjukan musik Nova Ruth. Fotografi oleh Alvinanda Kurniawan.

“Single musik dan video saya yang berjudul Imbang diluncurkan di acara Retas Batas, sebagai bentuk penggalangan dana kreatif untuk Arka Kinari,“ ujar seniman Nova Ruth yang juga merupakan pembina organisasi Lintas Batas. Pertunjukkan multimedia Arka Kinari ini digagas  oleh dua musisi, Nova (Indonesia) dan Filastine (USA – Spanyol) di atas kapal dengan teknologi terbarukan. Sebagai sebuah bahtera, Arka Kinari yang didasari akan keresahan tentang perekonomian karbon pun membawa isu bagaimana transaksi lintas budaya; pesan, cerita, dan seni dapat dilakukan dengan meminimalisir jejak karbon. Saat ini, kapal Arka Kinari sedang menuju ke Indonesia, dan diperkirakan sampai pada akhir Agustus 2020. Berbagai kegiatan slow touring di Indonesia telah dipersiapkan, tim Arka Kinari pun sedang berupaya berjejaring dan melakukan kegiatan fundraising demi kelancaran proyek ini. 

Fotografi oleh Alvinanda Kurniawan.

Dalam sesi diskusi kolaborasi, founder Radjoetasa, Nathan Santoso menekankan pentingnya ‘dapur ngepul’ bagi seniman agar tetap bisa berkarya secara bebas. Dapur ngepul, atau penghasilan yang cukup, bisa juga dihasilkan dari wirausaha. Seni memiliki tantangan tersendiri, penting untuk selalu memiliki gairah dan inspirasi, agar seniman produktif dan kreatif melahirkan berbagai karya. Proses bisnis menjaga ‘dapur ngepul’ sebenarnya juga merupakan seni yang membutuhkan kombinasi ide, kreativitas, keterampilan dan analisa logika. 

Lokakarya Studio Tumbuh. Fotografi oleh Alvinanda Kurniawan.

Untuk mendukung program pemberdayaan perempuan dan remaja yang ramah lingkungan, Lintas Batas bersinergi dengan Studio Tumbuh mengadakan lokakarya dengan tema pewarnaan tekstil dengan bahan alami. Seniman Levita Damaika yang merupakan mentor Studio Tumbuh menyatakan keunggulan menggunakan pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan adalah tahan lama, warna yang dihasilkan tidak pudar dan ramah lingkungan. Diharapkan lokakarya ini mendorong peserta untuk lebih berkreasi dan berani memulai proyek wirausaha sosial yang ramah lingkungan.

Adaptasi Kebiasaan Baru

Fotografi oleh Alvinanda Kurniawan.

Dalam masa pandemi COVID-19, organisasi Lintas Batas bertindak untuk mengadakan pertunjukan daring dan luring dengan memperhatikan protokol kesehatan aman dari Virus Corona. Pertunjukan ini dapat menjadi contoh simulasi pertunjukan dengan mengadaptasi kebiasaan baru dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan anti COVID-19. 

Sebelumnya, Lintas Batas mewajibkan partisipan untuk mengisi formulir self assessment resiko COVID-19 sebelum memasuki acara. Tim memeriksa kondisi kesehatan partisipan dan  memastikan bahwa partisipan dalam kondisi sehat. Pertunjukan ini dilaksanakan dalam skala kecil, dihadiri 102 orang dan penonton diwajibkan memakai masker. Untuk menghindari terjadinya paparan virus dari orang ke orang lain, diterapkan jaga jarak dengan orang lain minimal 1 meter.  Selain itu, pertunjukan juga telah disiarkan secara daring di media sosial Lintas Batas yang dapat dinikmati oleh publik dari rumah. 

Lintas Batas juga menerapkan prosedur penilaian keberhasilan dari setiap kegiatan yang akan diukur salah satunya melalui indikator tidak munculnya kasus Covid-19, 14 hari setelah terlaksananya setiap kegiatan pada setiap partisipan yang hadir dan telah dengan jujur mengisi formulir self assessment resiko COVID-19.

Tentang Lintas Batas & Arka Kinari

Lintas Batas merupakan organisasi non-profit yang berbasis di Malang, Indonesia, dengan visi mewujudkan kolaborasi seni untuk perubahan sosial dan lingkungan yang berkesinambungan. Program kami berfokus untuk menaikkan tingkat kesadaran global akan kesenjangan sosial, lingkungan, hak asasi manusia serta menciptakan ruang didik non-formal bagi para seniman, kreator, aktivis, dan pelaku kreatif.

Arka Kinari adalah Kapal yang mengusung dan menjalankan misi seni, budaya dan lingkungan, dipromotori oleh Lintas Batas selama mengarungi perairan di wilayah Indonesia.

Terima kasih untuk partner dan sponsor yang telah mendukung acara Retas Batas berjalan dengan baik; RadjoetAsa, Studio Tumbuh, Lakshmee Indonesia, Syntetic, Mili, Legipait, Kamar Gelap, Exodos, KNPI, Dates, Bako Japa, Mobilecafe.id, Kaki Meja, Sanggar Drama Celoteh.

Categories
Berita

Napak Tilas Nova Ruth

Ada Sepuluh lagu pilihan yang dikemas sebagai Antologi perjalanan karier musiknya.

Petikan gitar mengalukan irama rythem and blues dengan santai liriknya mengalir seirama, selepas bait pertama nyayianya berbelok menjadi hip-hop, Saat ini hanyalah dongengan para ibu menyejukan jiwa Hangatnya Suasana terdengar dengan indah dan bernada denga fakta namun sulit di percaya. Bertempo kalem tembang menbuat duniaku menjadi pembuka Album solo Nova Ruth Setyaningsih yang bertajuk Napak Tilas.

Ada sepuluh lagu pilihan yang di kemas, Sebagai Antologi perjalanan karier musik Nova. Sebagian lagu baru dan ada beberapa karya lama yang di aransemen ulang dengan sedikit perubahan judul. Tidak ribet kata Nova, konsep album di garap dengan musik akustik. Pilihan itu juga menonjolkan kemampuan vocalnya. pada lagu kedua, Wong Kang Murka, misalnya tarikan suara Nova, membelai telinga dengan langgam pesinden berlirik bahasa jawa.

Cengkok serupa mewarnai lagu Diantara Perbatasan, Plong Liminalitas, dan Macapat Pangkur. Sementara itu, pada lagu lain, Seperti Burung, Kalamakara, Fenomena Surga dan Debu Jalalan, ramuan musiknya terdengar bervariasi, Ada warna Pop, Jazz, Balada, juga irama Latin, Tema-tema Lagunya beragam, Persoalan hidup keseharian, lingkungan, hingga Sepiritualitas. Nova menuagkanya dari pengalaman pribadi, dan orang lain yang bercerita lewat Lirik-lirik berbaha Jawa, Indonesia dan Inggris.

Bersama Lebel Barongsai Records, Album itu diluncurkan dalam acara Malang Cassette Store Day, pada Oktober lalu. ”Cuma bikin 20 Album kaset,” kata dia kepada Tempo, di Bandung 22 November lalu. Proses pembuatan Albunya dimulai pada Mei. Nova semula ingin merekam langsung diluar ruangan. sempat menjajal di Rumah kawannya, hasilnya gagal karena kebanyakan noise atau suara ganguan.

Akhirnya, rekaman dipindah kedalam studio, dan tetap dengan format tampil langsung (Live). Hanya satu lagu, kata Nova, yang perekaman suaranya di kerjakan bertahap. Pembuatan Album itu juga melibatkan beberapa musikus, di antaranya suaminya, Grey Filastine, serta Ayahnya yaitu Gitaris Totok Tewel.

Selain rilisan fisik yang dibandrol, seharga RP 50, per kaset album itu dijual dalam bentuk musik digital seharga minimal US$ 7 atau US$ 1 per lagu, Selanjutnya, Nova menembangkan karyanya, kadang sambil memetik gitar akustik. Lilin berbaris didepanya, dan penonton mendengarkan senandung serta kisah Napak Tilasnya.

Nova mulai menyanyi dan menulis lirik lagu sendiri sejak lulus sekolah menengah atas pada 1999. Pilihan temanya soal politik dan masalah sosial. ”Hip-hop mewadahi kemarahan masa muda,” kata dia. Karya yang berjudul Otak Asap masuk album kompilasi perang Rap 2002. Sejak 2007 ia bersolo karier dan berkolaborasi dengan musikus atau grup musik mancanegara, seperti Sven Simulacrum dan Unkle Ho, serta menghasilkan beberapa rekaman single.

Sementara itu, bersama Grey Filastine, Suaminya, Nova membuahkan Album seperti L00T (2012), Mini Album Aphasia (2014), dan Drapetomania (2017). Kolaborasi keduanya menciptakan aransemen unik. Nova dengan vocal cengkok sinden menembangkan lirik berlatar musik eletronik garapan Filastine yang berbasis perkusi. banyak lagu yang awalnya dia bikin lalu musik Filastine membukusnya atau kadang sebaliknya.

Dari Hip-hop kemudian kembali ke musik Jawa, menurut Nova, dia lakukan karena sejak kecil akrab dengan budaya jawa. ketika bersekolah di malang, setiap hari ia menyerap aneka budaya jawa dari berbagai elemen, termasuk menari dan menyanyi. namun ia tak setuju disebut pesinden dengan cara bernyanyinya sekarang. ”Mengambil nada pentatonik dan filosofinya, cengkok ada, tapi natural saja” ujar dia.

Selain bermusik, Nova menjadi aktivis lingkungan dan penulis, bersama kelompok relawan dari berbagai negara, ia dan Filastine tengah menjalankan proyek dana hibah dari sebuah lembaga Internasional. Misinya berlayar keliling Nusantara dan mengadakan konser diatas kapal Arka Kinari. Kapal bas pencari ikan buatan Jerman 1947 itu mengandalkan layar dan tenaga angin. sejak Juni lalu, Kapal itu melakukan perjalanan dari Belanda ke Indonesia melewati Lautan Pasifik.

Penulis : Anwar Siwadi

Sumber : Tempo

Categories
Berita

Nova Ruth, Menyadarkan Masyarakat dari Sudut Kota Malang Hingga Bumi Eropa

Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Dalam kehidupan nyata, banyak anak yang mengikuti jejak orang tuanya, mulai dari pekerjaan sang ayah ataupun ibu. Inilah pepatah yang cocok disandingkan atas perjalanan karir artis muda berbakat asal Malang. Nova Ruth, begitulah ia dikenal adalah seorang penyanyi hip-hop yang sudah beberapa kali go international.

Tak heran jika Nova mempunyai bakat menyanyi yang bagus dan luar biasa, karena dalam dirinya mengalir darah orang tua yang juga bergelut di dunia musik. Nova adalah putri dari gitaris salah satu groupband rock legendaris Elpamas, TotokTewel. Nova juga mengakui kalau ibunya mempunyai suara yang bagus dan sering bernyayi juga. Bakat bermusik memang sudah melekat dalam dirinya, Nova belajar bermusik semenjak kecil. Kakeknyalah, yakni ayah dari bapaknya yang mengajarinya menyanyi dan membaca not. “Karena aku sering lihat bapak manggung, aku bertemu dengan teman-teman seninya, jadi aku mulai merasa dekat dengan dunia musik sejak kecil,” ungkapnya.

Mengawali karirnya di dunia musik, Nova mulai memilih menjadi penyanyi hip-hop sejak bertemu dengan teman-teman hip-hop pada tahun 2000. Bersama sahabatnya Indri, ia memulai karirnya dengan menjadi Rapper. Namun akhirnya pada tahun 2004 ia mulai menyanyi solo karena teman duetnya memutuskan untuk menikah. Karir Nova tak cukup berhenti sampai disitu, semenjak itu ia mulai terlibat dalam Poetry Battle di Yogyakarta. Pada tahun 2007, Nova terlibat dalam pembuatan album perdana dengan membawakan puisi “Dikawinkan Alam” karya Sitok Srengenge yang dikemas dengan nuansa hip-hop. Dalam album tersebut ia dan teman-teman Yogyakarta harus memberikan respon puisi karya penulis Indonesia.

Ternyata keikutsertaannya dalam Poetry Battle membawanya kepada keberuntungan dan menarik perhatian musisi dari luar Negeri. Nova kemudian diundang oleh Gang Festival Australia yang membuatnya harus tinggal disana selama dua bulan pada tahun 2008 dan bertemu dengan komunitas-komunitas disana. Selama mengikuti rangkaian acara tersebut Nova Ruth dikenalkan oleh temannya dari Australia, Sven Simulacrum kepada Grey Filastine, musisi Amerika yang tinggal di Barcelona.

“Lewat email filastine mengatakan saatnya manggung di Indonesia, manggunglah dia pada tahun 2008 akhir di IKJ dan di ulang tahun kesepuluh kelompok seni Taring Padi di Jogjakarta. Aku juga manggung disitu,” ungkap artis asal malang ini. Dari situlah kemudian Filastine tau karakter vokal Nova yang tak hanya bisa bernyanyi saja, akan tetapi juga nge-rap. Memang kalau Tuhan sudah mengatur, rezeki tak bakal kemana-mana. Filastine menawarkan kepada Nova untuk trial vokal selama dua minggu di Jepang. Dirasa cocok dengan genre musik filastine dan cocok manggung bareng, akhirnya sosialita ini terlibat jauh dalam tour-tour Filastine yang mengakibatkan ia sering berangkat ke Eropa dan meninggalkan Kota Malang untuk sementara waktu.

Bepergian ke luar Indonesia tentu tidaklah mudah. Inilah tantangan yang harus dipatahkan oleh Nova Ruth untuk mengejar impiannya. Memang benar untuk mendapatkan sesuatu yang besar membutuhkan kerja keras yang sepadan. Kesulitan untuk mendapatkan visa ke luar Negeri bukan menjadi penghalang untuk tidak berangkat memenuhi undangan beberapa festival di Luar Negeri. Nova harus mondar-mandir keluar masuk kedutaan Negara yang dituju. Tentu untuk mengurus dan mendapatkan visa yang dimauinya, ia harus bepergian ke Jakarta. “Statusku sebagai seniman mandiri, seorang wanita, tidak tergabung dengan organisasi manapun, tidak banyak dikenal warga se-Indonesia karena tak pernah masuk televisi nasional, bukan berarti karyaku tidak dilirik Negara lain. Walau susah untuk mendapatkan visa, tapi pada akhirnya perjuangan panjang dengan penuh kegigihan memang sangat manis pada akhirnya,” jelasnya.

Bagi Nova, bermusik bukanlah sekedar membawakan untaian kata yang dibalut dan dihiasi dengan not-not agar enak didengarkan. Lirik-lirik yang terangkai bukan sekedar lirik yang mengandung kata-kata cinta atau bualan semata. Bermusik bagi Nova harus ada pesan-pesan yang terkandung di dalam lagu yang dinyanyikannya, terlebih kritisan terhadap lingkungan dan sosial. Wanita yang juga sebagai aktivis ini sudah menyanyikan lagu-lagu kritisan terhadap lingkungan dan sosial sejak duet dengan sahabatnya, terlebih ketika tour barsama Filastine. Lewat musik, Nova ingin menyadarkan pada masyarakat bahwa bumi ini sudah kacau balau dan saatnya untuk berubah. “Sebetulnya motivasiku agak lugu, aku ingin mengubah dunia. Meskipun aku juga pesimis kalau dunia bisa berubah. Setidaknya melalui musik aku bisa menumpahkan isi hati dan memberi tau penonton sudah saatnya untuk berubah,” tuturnya.

Tak hanya bermusik. Sebagai seorang wanita yang multitalenta, Nova juga pernah menjadi training coordinator di salah satu perusahaanNon-Government Orientation (NGO) dari Australia. Ia mengajarkan kepada para aktivis untuk meng-upload video dengan software open source dan memberikan lisensi yang benar pada karya digitalnya. Hal ini bermula karena banyaknya karya digital yang dipersalahgunakan oleh media mainstream tanpa izin. Selain itu, bersama dengan temannya untuk menfasilitasi teman-teman musik di Malang, Nova membangun sebuah cafe yang diberi nama Legipait.

Siapa yang menyangka, ternyata di tengah-tengah keramaian Malang masih dapat ditemukan seorang wanita dengan segudang prestasi dan tak banyak orang yang mengetahuinya. Nova bukanlah artis terkenal layaknya Agnes Monica. Meskipun begitu, bukan berarti bakat dan kemampuan Nova didunia musik patut untuk diremehkan. Nova tak pernah mempermasalahkan hal itu, baginya bermusik adalah kesukaannya dan semua usaha dan jerih payahnya selama ini pasti ada ganjarannya masing-masing. _HM

Sumber : Kompasiana

Categories
Berita

Toto Tewel Semangati Musisi Muda

Setelah hengkang dari Iwan Fals Band, gitaris legendaris Indonesia, Toto Tewel, memilih bersolo karier. Bahkan, pemilik nama asli Emmanuel Herry Hertoto ini meluncurkan album solo berjudul Miberdhewen (terbang sendiri).

Menurut Toto, nama Miberdhewen yang berarti terbang sendiri, karena seluruh lagu dalam album ini digubah seorang diri. “Ini benar-benar album yang saya garap sendiri. Ngisi drum sendiri, gitar sendiri, bass sendiri, aransemen sendiri,” katanya, Kamis (10/05/2018) di Malang.

Dirinya tidak ingin dianggap ‘kacang lupa kulitnya’. Meskipun sudah menetap di Jakarta,

Ia mengenalkan albummya di kota kelahirannya, Malang. Dan, di Museum Musik Indonesia (MMI), Kamis (10/05/2018), Toto membedah, sekaligus memainkan lagu dari album baru di hadapan pecinta musik dan seniman di Kota Malang. Dirinya berkolaborasi dengan beberapa musisi, Nova Ruth dan Ketua KPJ,  Anto Baret.

Di album tersebut, berisikan tujuh lagu dalam format instrumental. Tidak sekadar menampilkan kecepatan, nada-nada melengking, ala lead gitar rock, melainkan juga harmoni di antara instrumen-instrumen musik di dalamnya.

“Seluruh lagu terilhami dari kisah perjalanan kehidupan pribadi kariernya dalam dunia musik selama 45 tahun terakhir,” lanjut The Best Guitarist versi Festival Rock se-Indonesia yang diselenggarakan Log Zhelebour (1984, 1985 dan 1986) ini.

Ia berharap, albumnya dapat semakin mewarnai musik Indonesia dan membuat generasi musisi yang lebih muda, tidak takut mengeluarkan karya. “Generasi saat ini lebih mudah dapat akses. Lebih mudah belajar. Harusnya lebih mampu memperjuangkan musik Indonesia,” pungkasnya. 

Sumber : Tabloid Jawa Timur

Categories
Berita

Arka Kinari Berlayar Jelajahi Dunia Menyuarakan Isu Lingkungan

Lebih dari dua tahun, Nova Ruth dan Grey Filastine merancang sebuah proyek untuk merealisasikan mimpi mereka berlayar mengelilingi dunia. Keduanya memiliki misi menyuarakan kehidupan yang lebih baik untuk masa depan kepada masyarakat dunia.

Mereka sempat terpikir untuk membatalkan rencana berlayar. Selain tidak mudah, hal tersebut juga memiliki tantangan tersendiri. “Kami ditempa banyak hal seperti penolakan daripada dukungan dari badan dan lembaga donor swasta maupun pemerintah,” tulis Nova dalam laman Instagramnya.

Berkat tekad yang  kuat, pada September 2019 lalu, kapal Arka Kinari yang merupakan proyek Nova dan suami diluncurkan pertama kali di Laut Utara Belanda. Nama tersebut diambil dari dua bahasa, yaitu Arka (Latin Vessel) yang berarti menahan atau mempertahankan dan Kinari yang merupakan bahasa Sansekerta dari seorang musisi penjaga kehidupan.

Perjalanan mereka mengarungi lautan di bulan Januari 2020 lalu berlangsung selama kurang lebih enam bulan. Bersama kru dan anggota musik filastine, mereka singgah di beberapa negara seperti Kolombia, Guna Yala, dan Meksiko. Bulan ini, Arka Kinari diperkirakan akan sampai di tujuan akhir, yaitu perairan Indonesia.

“Kami akan memasuki perairan Indonesia dan mencatat sejarah baru di dunia maritim lewat seni dan budaya,” tulis Nova pada keterangan instagramnya yang diposting pada 18 Maret 2020 lalu.

Selama berlayar, Arka Kinari akan melewati rute-rute perdagangan yang hilang. Di zaman kerajaan terdahulu, Indonesia merupakan negara yang strategis dalam urusan perdagangan internasional. Namun, saat ini negara maritim ini berubah menjadi salah satu penghasil sampah plastik terbesar di dunia.

Kapal layar bekas buatan Jerman tahun 1947 tersebut dipilih oleh kedua musisi ini untuk membuat sebuah konser. Mereka melakukan pementasan dari sebuah dek kapal berlayar klasik dengan memadukan musik live dan visual sinematik.

Konsep pertunjukan yang diusung oleh Nova Ruth dan Filastine mencampurkan melodi tradisional Jawa, polyrhythms hipnosis, dan musik elektronik kontemporer yang dinamis. Dua musisi dan dua kru tambahan menggunakan kapal, layar, pantai, dan air sebagai panggung skenografi.

Untuk menopang daya pada setiap konser di atas kapal, Nova dan suami  menggunakan energi terbarukan dalam memenuhui kebutuhan audiovisual skala besar. Dengan metode tersebut mereka juga menyuarakan isu-isu lingkungan di setiap negara yang disinggahi.

Ia juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada para sahabat yang terus memberikan semangat dalam perjalanannya mengarungi lautan dunia. “Kami sangat berterima kasih kepada sahabat dan kerabat terutama yang telah menyemangati dalam persiapan penggarapan proyek ini sejak awal hingga kini,” ucapnya.

Penulis : Ridho Pambudi

Sumber : Greeners.co