Tim Lintas Batas

Toto Tewel

Emmanuel Herry Hertoto, yang akrab dipanggil Toto Tewel, telah malang melintang dalam dunia musik sejak lama. Sempat bergabung di Q-Red, Ogle Eyes dengan vokalisnya Micky Jaguar. Ia juga banyak membantu mengisi gitar dalam proyek album rekaman sejumlah artis seperti Mel Shandy, Bangkit Sanjaya, Ikang Fawzi, Anggun C Sasmi, Yossie Lucky dan Metal Boyz. Selain gabung di Elpamas, gitaris ini juga memperkuat kelompok musik Swami, Dalbo, Sirkus Barock, Kantanta Takwa hingga Kantata Barock.

Dalam perjalanan karirnya, sosok gitaris asal Malang ini telah mengukir reputasi tersendiri di panggung rock Indonesia. Antara lain pernah dinobatkan the Best guitarist – Festival Rock se-Indonesia versi Log Zhelebour, tahun 1984, 1985 dan 1986. Tak heran bila namanya kemudian tercatat sebagai salah satu gitaris rock terbaik Indonesia. Saat gabung di Swami atau Kantata Takwa, sosoknya lebih banyak sembunyi di balik bayang-bayang nama besar Iwan Fals, Sawung Jabo, Jockie Soeryoprayogo, dan Setiawan Djody.

Nova Ruth

Nova Ruth, seniman dan organisator komunitas di antara jaringan artivis di Asia, bekerja secara independen dan dengan organisasi seperti EngageMedia, 350, dan Greenpeace.  Nova merilis album kompilasi Perang Rap (2002), Twin Sista memproduksi album Mother of Nature (2003), Poetry Battle #1 (2007) yang merupakan bagian dari Les Printemps Des Poètes dan album Napak Tilas ( 2019).  Ia juga bekerja sama Filastine dalam membangun pertunjukan Arka Kinari. Bersama Filastine, Nova tampil dalam beberapa festival musik internasional;  Sonar (ES), Decibel (US), Les Vieilles Charrues (FR), Mutek (JP), Foreign Affairs (DE), dan Sydney Festival (AU). Di Malang, sejak 2011, Nova mendirikan Legipait sebagai tempat ngopi, sekaligus pojok ekspresi bagi seniman dan budayawan.

Titi Permata

Titi Permata, pelaku kreatif dan penyelenggara Festival Mata Air (2006-2016) di Salatiga. Alumni  jurusan Biologi UKSW Salatiga ini percaya dapat menyilangkan seni dan aktivisme lingkungan hidup dengan harapan bisa dipahami dan dijalankan dengan lebih menyenangkan. Pada 2006 mendirikan Komunitas Tanam Untuk Kehidupan (TUK), melakukan inisiatif kampanye lingkungan dan program konservasi mata air di Salatiga. Titi juga menjadi manajer program Lingkungan Hidup di Maluku Utara (2017- 2020). Saat ini, Titi aktif  sebagai koordinator lokal program seni pertunjukan Arka Kinari di Indonesia. 

Wina Yohergaindie

Wina Yohergaindie, seniman yang dikenal dengan nama Zhizaa. Rapper, komposer, dan penulis lagu di beberapa record label seperti Pasukan Record dan Soundstarz present. Selain bermain musik, lelaki yang juga berprofesi sebagai kapster ini menghasilkan beragam karya, seperti album kompilasi What’s up Black (2003) yang dirilis oleh Pasukan record dan RnB record Jakarta. Ia meraih juara 1 kompetisi Rap Indonesia di Semanggi Jakarta (2003), Juara 1 Rap Battle SuryaPro (2006), Rhyme N Soul (2007 ), On Radio (2010 ), lalu pada 2012 bersama APA RAPPER merilis single Salam Satu Jiw yang di gunakan sebagai Anthem Aremania.

Putri Ayusha

Putri Ayusha, fasilitator pendidikan lingkungan, seniman kolase, dan pengajar BIPA. Sejak 2008, ia aktif di organisasi lingkungan dan kepemudaan di antaranya: Yayasan KEHATI, Earth Charter International, 350, dan Ashoka Indonesia. Pada 2010, ia menjadi salah satu pendiri organisasi lingkungan bernama Transformasi Hijau (TRASHI).

Saat ini Putri berdomisili di Barcelona setelah menyelesaikan pendidikan S-2 pengelolaan sumber daya biologi. Ia masih aktif di bidang pendidikan lingkungan melalui media seni kolase dan juga berinisiatif merawat bahasa Indonesianya dengan tetap belajar serta mengajarkan bahasa Indonesia untuk penutur asing (BIPA).

Hardika Bagus

Hardika Bagus, pelaku kreatif yang berkecimpung di wilayah akar rumput di Kota Malang. Ia aktif di beberapa kelompok religi kemasyarakatan. Mulai 2014 mengikuti Majelis Masyarakat Maiyah hingga saat ini dan telah menjadi perwakilan di wilayah regional Kota Malang.

Ia juga gencar dalam menyuarakan kepedulian untuk lingkungan sekitar dari wilayah terkecil di masyarakat. Pada April 2020, Dika menjadi salah satu dari beberapa pemuda yang turut serta dalam melestarikan alat musik tradisional khas Kota Malang yang bernama rinding.

Trianingsih

Trianingsih, organisator dan publisis yang telah berproses di berbagai bidang, mulai dari program radio, bisnis pengembangan Slab Games, dan manajemen seni. Tria juga menjadi penulis buku We Indonesians Rule (2014) tentang catatan perjalanan industri kreatif di Indonesia. Pada 2015, ia mendapat kesempatan belajar Intercultural Communication dari Erasmus+ di Romania. Tria terlibat di beberapa program internasional Erasmus+; Immigration project di Madrid, Social Media Literacy For Women di Madrid, Green Games & Youth Entrepreneurs project di Slovenia dan menjadi fasilitator lokakarya bridge between Europe & Asia di festival Jashtyk, Kyrgyzstan.

Oneding

Oneding, pelaku kreatif yang berbasis di Malang. Aktif berkecimpung di dunia musik sejak lulus SMA. Ia tergabung dalam band bernama SATCF, dan juga mempunyai project solo yang baru saja merilis album pertama. Selain aktif bermusik, Oneding juga sering mengadakan acara kolaboratif untuk merajut ekosistem kesenian di kota Malang. Oneding memiliki unit usaha warung yang menjual minuman olahan rempah bernama Kalcer.

Levita Damaika

Levita Damaika, pelaku kreatif di bidang kriya tekstil dan berdomisili di Malang. Mengawali karirnya di dunia musik hingga 2011, Levi memutuskan untuk berkarya dan mengembangkan sebuah brand fashion ramah lingkungan di Lakshmee Indonesia. Berfokus di pengembangan karya tekstil dengan pewarna alami. Selain Fokus di Lakshmee Indonesia, dia juga aktif mengajar, berkreasi dan menularkan gaya hidup ramah lingkungan bersama para pengrajin lokal malang yang bergerak di bidang yang sama dengannya dengan membuka kelas lokakarya non formal di @tumbuhstudio. Di waktu senggang ia aktif dalam kegiatan pemberdayaan wirausaha sosial untuk perempuan di Malang. Dengan harapan para perempuan bisa percaya diri, tangguh, mandiri, berkarakter dan juga mampu berkarya tanpa harus takut untuk mengembangkan diri mereka, karena perempuan berperan penting terhadap terhadap berkembangnya suatu bangsa.

Muhammad Indra Gunawan

Muhammad Indra Gunawan, pelaku kreatif di bidang seni pertunjukan yang berbasis di Bali. Berpengalaman mengelola berbagai pertunjukan, yaitu Rekam Jejak (2012-2014), Random Radness (2015-2017), dan Sprites (2015-2016). Menjadi Event Manager di Rumah Sanur Creative Hub (2018-2019) dan salah satu pendiri Irockumentary.club. Ia menekuni fotografi panggung yang mengabadikan Laneway Festival 2018 di Singapura, fotografer resmi untuk Soundrenaline ( 2016-2018). serta selaku fotografer series film pendek masakan Nusantara bersama Nusa Rasa dan kemendikbud. Bersama kolektif KaryawanKaryawan, ia menjadi tim visual jockey untuk Disclosure, Peggy Gou, Ben Ufo, dan Apparat .